Jembatan Peringatan

Jatah dua minggu cuti yang pas dengan momen Lebaran tahun ini usai sudah. Akhirnya dini hari tadi saya kembali ke Tanjung, sebuah kota kecil di kabupaten ujung utara Kalimantan Selatan. Di sinilah saya selama setahun terakhir mencari rezeki mencari ilmu, mengukur jalanan seharian, begitu terdengar suara adzan kembali tersungkur hamba di Pama jobsite Adaro.

Sebuah perjalanan cukup panjang nan melelahkan harus ditempuh tiap kali selesai cuti. Setelah turun di Bandara BDJ Banjarbaru, saya masih harus menempuh jarak sekitar 200 km. Melewati Kabupaten Tapin (Rantau), Hulu Sungai Selatan (Kandangan), Hulu Sungai Tengah, dan Balangan (Paringin). Ditempuh dalam 4-5 jam dengan bus perusahaan, tentunya bukan waktu yang sebentar. Dan karena di dalam bus tinggal duduk manis (pastinya pakai seatbelt), ditambah lagi perjalanan dilakukan malam hari, seringkali saya sudah tertidur dengan pulas begitu masuk area Rantau. Untungnya, jalur bus ini sudah dilapisi aspal semua, jadi tidur pun nikmat rasanya, bahkan sering kali supir bus berhenti istirahat di Kandangan pun saya sudah malas untuk turun untuk sekedar makan atau minum kopi.

Namun anehnya, ada sebuah lokasi di mana saya seringkali terbangun lebih dulu sebelum sampai di mess. Selama 5x perjalanan kembali ke site, saya terjaga secara tiba-tiba ketika bus melewati Jembatan Layang Simpang Wara.

Jembatan ini layaknya jalan layang di kota besar, hanya ukurannya saja yang jauh lebih kecil, di mana jalan di bawah jembatan ini digunakan sebagai jalur angkut batubara dari tambang menuju ke pelabuhan (jalan hauling). Jadi dari situ terlihat papan besar di jalan bawah yang berbunyi “Area Objek Vital Nasional” dan “Anda Memasuki Wilayah PT. Adaro Indonesia”. Karena alasan tertentu tidak bisa saya unggah fotonya.

Selalu persis di situ lokasinya. Memang sudah dekat dengan mess, jadi udah susah mau tidur lagi, tapi ya nanggung aja lagi tidur enak-enak sambil mengenang indahnya masa cuti, eh malah kebangun, mana langsung liat batubara diangkut pula.

Setelah dipikir-pikir, mungkin memang alam bawah sadar saya yang memberi sambutan. “Woi, bangun woi, liat nih lo jalan hauling, siap-siap kuatin diri lo, tambah item lagi, hahaha“. Mungkin juga sekedar pemberian peringatan akan datangnya masa-masa di mana jalan hauling itulah yang akan tiap hari saya lewati dalam perjalanan dari mess menuju area tambang. Di mana setelan kaos oblong dan celana kolor semasa cuti berubah menjadi kemeja dan celana lapangan beserta rompi hijau. Di mana sandal swalo berubah menjadi safety shoes. Di mana helm KYT untuk motoran berubah menjadi helm putih proyek. Di mana patok, pita, dan GPS akan kembali menjadi senjata saya dalam memberikan acuan di lapangan. Di mana kerinduan akan hangatnya keluarga dan hingar bingar Pulau Jawa seisinya harap disimpan terlebih dahulu. Sampai tiba waktunya kembali cuti dua bulan lagi.

Terima kasih saya ucapkan buat Jembatan Peringatan, yang memberikan alarm bahwa sudah waktunya kembali bekerja. Jangan nangkepin Pokemon mulu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s